<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8628341173925339126</id><updated>2011-07-09T01:22:12.087+07:00</updated><title type='text'>Sekedar Mencari Jati Diri</title><subtitle type='html'>Mencoba berlari lagi dari ketertundukan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andihere.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andihere.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>joefi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13728987892278368860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyKGrWNfIZI/AAAAAAAAAAs/N_r3kGqzXfE/S220/java.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8628341173925339126.post-4070948924223297029</id><published>2009-12-12T12:17:00.004+07:00</published><updated>2009-12-12T12:28:49.872+07:00</updated><title type='text'>pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran</title><content type='html'>Selama ini ada diantara kita yang sedikit dibingungkan oleh beberapa istilah dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Beberapa istilah itu diantaranya pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran. Ada sebagian orang yang menganggap sama hanya istilahnya saja yang beda, ada pihak lain yang melihat secara substansi memang ada perbedaan diantara istilah itu. Akhirnya daripada semakin bingung istilah-istilah tersebut oleh beberapa pihak dianggap tidak ada saja.&lt;br /&gt;Untuk semakin mempertegas dan memperjelas beberapa istilah tersebut berikut akan disajikan sekilas tentang pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.&lt;br /&gt;Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).&lt;br /&gt;Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.&lt;br /&gt;2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.&lt;br /&gt;3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.&lt;br /&gt;4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.&lt;br /&gt;Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:&lt;br /&gt;1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.&lt;br /&gt;2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.&lt;br /&gt;3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt;4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.&lt;br /&gt;Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.&lt;br /&gt;Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)&lt;br /&gt;Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyMpvhsKZ3I/AAAAAAAAABY/irprwyEO5ts/s1600-h/model-pembelajaran1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 218px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyMpvhsKZ3I/AAAAAAAAABY/irprwyEO5ts/s320/model-pembelajaran1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414217073503659890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.&lt;br /&gt;Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.&lt;br /&gt;Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.&lt;br /&gt;Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)&lt;br /&gt;============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;oleh: Akhmad Sudrajat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8628341173925339126-4070948924223297029?l=andihere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andihere.blogspot.com/feeds/4070948924223297029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8628341173925339126&amp;postID=4070948924223297029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/4070948924223297029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/4070948924223297029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andihere.blogspot.com/2009/12/pendekatan-strategi-metode-teknik.html' title='pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran'/><author><name>joefi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13728987892278368860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyKGrWNfIZI/AAAAAAAAAAs/N_r3kGqzXfE/S220/java.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyMpvhsKZ3I/AAAAAAAAABY/irprwyEO5ts/s72-c/model-pembelajaran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8628341173925339126.post-2830980240965271972</id><published>2009-12-12T01:51:00.001+07:00</published><updated>2009-12-12T01:55:00.687+07:00</updated><title type='text'>Model-Model Pembelajaran Inovatif</title><content type='html'>Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu seharusnya diikuti pula oleh perubahan gaya mengajar guru. Strategi pembelajaran konservatif yang sampai saat ini masih digunakan oleh kebanyakan guru (mungkin oleh saya juga, he he he) sangat jauh dari tuntutan kurikulum terkini yang intinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. Lingkungan dan perkembangan peserta didik yang dewasa ini sedemikian pesat perkembangannya harus diikuti oleh pengembangan wawasan dan strategi pembelajaran oleh setiap guru.&lt;br /&gt;Model-model pembelajaran inovatif sebenarnya bukan barang baru. Di beberapa pelatihan, workshop, dan semacamnya, model-model pembelajaran tersebut sudah diberikan dan dituntut untuk segera diaplikasikan di setiap lembaga pendidikan. Tetapi, mungkin kita terlalu terlena dengan model lama sehingga pembaruan-pembaruan tersebut dianggap konsep yang terlalu "melangit" dan susah diterapkan.&lt;br /&gt;Berikut beberapa model pembelajaran inovatif yang mungkin bisa kita terapkan bersama, sehingga "membumi" dalam aktivitas kita sehari-hari, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-Model Pembelajaran Inovatif untuk Digunakan Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pembelajaran inovatif yang akan mampu membawa perubahan belajar bagi siswa, telah menjadi barang wajib bagi guru. Pembelajaran lama telah usang karena dipandang hanya berkutat pada metode mulut. Siswa sangat tidak nyaman dengan metode mulut. Sebaliknya, siswa akan nyaman dengan pembelajaran yang sesuai dengan pribadi siswa saat ini.&lt;br /&gt;Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.&lt;br /&gt;Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperatif (CL, Cooperative Learning).&lt;br /&gt;Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.&lt;br /&gt;Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siawa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.&lt;br /&gt;Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)&lt;br /&gt;Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.&lt;br /&gt;Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)&lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).&lt;br /&gt;Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)&lt;br /&gt;Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)&lt;br /&gt;Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.&lt;br /&gt;Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri&lt;br /&gt;Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem Posing&lt;br /&gt;Problem posing yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem Terbuka (OE, Open Ended)&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Probing-prompting&lt;br /&gt;Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)&lt;br /&gt;Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reciprocal Learning&lt;br /&gt;Weinstein &amp;amp; Meyer (199 mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAVI&lt;br /&gt;Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TGT (Teams Games Tournament)&lt;br /&gt;Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan&lt;br /&gt;b.Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)&lt;br /&gt;Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAI (Team Assisted Individualy)&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STAD (Student Teams Achievement Division)&lt;br /&gt;STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NHT (Numbered Head Together)&lt;br /&gt;NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jigsaw&lt;br /&gt;Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPS (Think Pairs Share)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GI (Group Investigation)&lt;br /&gt;Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEA (Means-Ends Analysis)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CPS (Creative Problem Solving)&lt;br /&gt;Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTW (Think Talk Write)&lt;br /&gt;Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TS-TS (Two Stay – Two Stray)&lt;br /&gt;Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)&lt;br /&gt;Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)&lt;br /&gt;Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)&lt;br /&gt;SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MID (Meaningful Instructionnal Design)&lt;br /&gt;Model ini adalah pembnelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUASAI&lt;br /&gt;Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CRI (Certainly of Response Index)&lt;br /&gt;CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DLPS (Double Loop Problem Solving)&lt;br /&gt;DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)&lt;br /&gt;DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IOC (Inside Outside Circle)&lt;br /&gt;IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari Bambu&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi&lt;br /&gt;Artikulasi adalah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debate&lt;br /&gt;Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Role Playing&lt;br /&gt;Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talking Stick&lt;br /&gt;Sintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Student Facilitator and Explaining&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Course Review Horay&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstration&lt;br /&gt;Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Explicit Instruction&lt;br /&gt;Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scramble&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pair Checks&lt;br /&gt;Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Make-A Match&lt;br /&gt;Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mind Mapping&lt;br /&gt;Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Examples Non Examples&lt;br /&gt;Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picture and Picture&lt;br /&gt;Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cooperative Script&lt;br /&gt;Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPS-Heuristik&lt;br /&gt;Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Improve&lt;br /&gt;Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generatif&lt;br /&gt;Generatif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restruturisasi sajiankonsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Circuit Learning&lt;br /&gt;Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Complete Sentence&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Concept Sentence&lt;br /&gt;Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci, presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time Token&lt;br /&gt;Model ini digunakan untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take and Give&lt;br /&gt;Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa – bahan belajar – dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Superitem&lt;br /&gt;Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hibrid&lt;br /&gt;Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Treffinger&lt;br /&gt;Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumon&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quantum&lt;br /&gt;Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus quantum fisika asdalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;================&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lutfizulfi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://lutfizulfi.wordpress.com/2008/09/26/model-model-pembelajaran-inovatif-untuk-digunakan-guru/&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;September 26, 2008 pada 1:17 am (education)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8628341173925339126-2830980240965271972?l=andihere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andihere.blogspot.com/feeds/2830980240965271972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8628341173925339126&amp;postID=2830980240965271972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/2830980240965271972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/2830980240965271972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andihere.blogspot.com/2009/12/model-model-pembelajaran-inovatif.html' title='Model-Model Pembelajaran Inovatif'/><author><name>joefi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13728987892278368860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyKGrWNfIZI/AAAAAAAAAAs/N_r3kGqzXfE/S220/java.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8628341173925339126.post-4397806889601364936</id><published>2009-12-11T13:44:00.001+07:00</published><updated>2009-12-11T13:47:49.989+07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru</title><content type='html'>Profesi guru dapat dikatakan sebagai profesi pelayanan di bidang jasa,  sama halnya dengan orang yang bekerja di bidang kesehatan, atau di  bidang jasa lainnya. Orang orang yang bekerja dalam bidang jasa bekerja  sesuai dengan moto yang dianut oleh instansi mereka, sebagai contoh  “Kami melayani anda dengan senyum, kami melayani anda dengan sepenuh  hati, Kepuasan pelanggan adalah komitmen kami, dan lain-lain”. Namu  sebagian guru ada yang  telah melupakan motto mereka-tut wuri hadayani,  sebagai konsekwensinya mereka cenderung mengajar sesuka hati, atau  sesuai dengan kata hati saja. Barangkali karena mereka cuma banyak  berhubungan dengan manusia kecil- anak didik, yang mungkin tak perlu  pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan mungkin  juga berfikir demikian pula. “Wah kan cuma melayani orang sakit, pasien  yang baik, tentu pasien yang patuh dan tidak banyak ngomong dan mematuhi  suruhan dan larangan rumah sakit”. Namun entah mengapa  secara  pelan-pelan pasien menyerbu rumah sakit di Melaka, di Negara jiran. Apa  alasannya “kami puas dengan pelayanan yang mereka berikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru  ini ada teman baru pulang dari mengikuti program magang guru di  Australia (Program magang guru MIPA-guru SBI- Propinsi Sumatra Barat)  mengatakan bahwa kualitas otak guru-guru kita tidak kalah dari kualitas  guru-guru di Austraia. Keunggulan atau kelebihan guru di sana adalah  pelayannan mereka pada anak didik, atau prefesionalitas dalam pelayanan  selama pembelajaran. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak didik bertanya pada guru dalam  suatu kelas, “Miss Nancy, I don’t understand about this subject”. Maka  guru dengan serta merta segera bangkit, tersenyum dan buru buru  mendatangi bangku siswa sambil berucap “ What Can I do for you”, kalau  siswa mampu menyelesaikan sebuah problem, langsung member appresiasi “Oh  great, how could you do that”, dan kalau siswa salah/ belum benar dalam  mengerjakan soal, masih berucap hal-hal positif “ That’s oke, I am sure  you can do it”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kontra, tanpa merendahkan kualitas  guru kita sendiri, kalau ada seorang siswa yang bertanya dalam PMB maka  dengan bergaya seorang Boss siswa akan dipanggi ke depan/ ke meja guru   “Yang tidak mengerti mari maju ke depan”. Atau komentar lain, “Ini saja  kamu tidak mengerti”. Kemudian kalau siswa melakukan kesalahan dalam  menjawab soal maka kita/ guru akan berkomentar, “Wah kalau begini cara  kamu  lebih baik kamu turun kelas atau ikut les privat saja !”. Alhasil  banyak siswa cenderung memilih bungkem dari pada di marahi atau  ditertawakan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ekspresi di atas terlalu mengada-ada  atau tidak, namun fenomena tersebut dapat kita jumpai dengan mudah pada  berbagai sekolah. Kalau begitu kenyataannya apa yang kurang bagi kita  sebagai guru ? Tentu saja kita kurang berjiwa besar, kurang menyadari  bahwa kita digaji atau dibayar oleh negara untuk mendidik, apalagi bagi  guru yang sudah menerima imbalan sertifikasi maka sudah sewajarnya kita  menunjukan pelayanan prima- excellent service- dalam PBM, dan segera  menjadi guru yang memiliki jiwa besar dan berfikir positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjiwa  besar dan berfikiran positif ? David J Schwartz (1996) menulis buku  dengan judul “The Magic of thinking big”, yaitu tentang berfikir dan  berjiwa besar. Idenya sangat bagus kita adopsi, sebagai guru, agar kita  bisa meningkatakan pengabdian dan pelayanan pada anak didik. s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata  “berfikir positif” sering diikuti oleh kata ‘berjiwa besar”. Dalam  hidup banyak orang yang berbicara tentang kata atau frase tersebut. Ini  menandakan kesadaran untuk menjadi manusia yang baik sudah menjadi  dambaan.  Orang yang memiliki pikiran positif dan sekaligus berjiwa  besar sangat dihargai dan dianggap memiliki derajat yang tinggi. Menjadi  orang yang berfikiran positif dan berjiwa besar dapat digapai dengan  ilmu dan mengamalkan agama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran (58:11) dijelaskan  bahwa Allah Swt meninggikan derajat orang yang beriman, yaitu orang yang  diberi ilmu. Sekali lagi, bahwa untuk menjadi orang yang berfikiran  positif, sangat membutuhakan ilmu pengetahuan, pembiasaan, atau latihan  dan kesabaran. Berfikir positif sangat bermanfaat bagi guru sebagai  pendidik. Salah satu manfaat yang kita rasakan adalah menjadi guru yang  berhasil dalam mendidik.&lt;br /&gt;Keberhasilan dalam hidup, apakah sebagai  pebisnis, sebagai guru, wiraswasta, dan lain-lain, tidak bergantung pada  besarnya otak yang kita miliki atau kecerdasan kita saat kuliah dulu,  tetapi ditentukan oleh cara berfikir positif- berarti kemampuan  affektif. Maka berarti bersekolah sudah tidak tepat lagi kalau hanya  untuk mencerdaskan otak, namun membiarkan sikap atau kepribadian menjadi  kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa kita dan semua guru adalah produk  dari cara berfikir orang di lingkungan kita- cara mereka merespon dan  memberi kita stimulus sejak kecil. Coba ingat dan perhatikan cara  berfikir orang tua kita, paman kita, tetangga, atau kenalan kita atau  kita sendiri: “kalau badan saya cukup sehat cuma kantong saja yang  sakit. Tetangga saya kerjanya cuma goyang-goyang kaki, tiba tiba kok  jadi kaya mendadak…,kepala sekolah saya kerjanya mengurus proyek  melulu….., Saya ingin maju tapi tidak punya waktu…!” Demikian beberapa  komentar, yang terwujud dari cara berbicara dan cara berfikir kita dalam  percakapan pribadi. Ini pertanda bahwa kebanyakan cara berfikir kita  bisa jadi juga kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kita dan siswa-siswi kita  menjadi orang baik atau menjadi orang buruk juga ditentukan dari cara  berfikir kita. “Menurut ku, kamu adalah anak yang baik. Kamu disenangi  karena sungguh jujur atau saya tidak sudi lagi menajak kamu belajar di  sini, …susah saya lagi untuk percaya padamu”. Kata kata yang kita  ucapkan segera kita lupakan namun selalu tertancap dalam sanubari anak,  adik dan kenalan kita dan sekaligus akan mempengaruhi pribadi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi  (keberadaan) diri kita memang ditentukan dari cara kita berfikir.  Apakah fikiran kita menetukan diri kita sebagai guru yang berharga atau  tidak. Kalau fikiran kita mengungkapkan diri kita adalah guru yang  berharga maka mari kita wujudkan ke dalam penampilan , cara berpakaian,  cara berjalan, cara tersenyum dan cara berbicara, Maka kemudian beritahu  orang tentang apa yang bisa kita perbuat. “Apa yang bisa saya kerjakan  buat anda ?” dan kita tidak akan berucap lagi “Maaf saya tidak sanggup”.  Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan kalau kita sungguh-sungguh  ingin menjadi guru berhati lapang (berfikiran positif) tanpa pernah  membiarkan jiwa tumbuh kerdil,yaitu:  menjaga kualitas human relation,  mempelajari tentang bagaimana menjadi guru berhati lapang atau berjiwa  besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never let personality grow small&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never let  personality grow small atau jangan biarkan jiwa tumbuh kerdil. Ada  hal-hal yang perlu kita hindari karena berpotensi membuat jiwa tumbuh  kerdil seperti kebisaaan suka berdalih, memompakan pikiran negatif pada  banyak orang, anti kerja keras dan malas. Hal-hal sepele ini bisa  bercokol pada diri kita dan kadang kala kita pelihara sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  bagus jadi pendidik yang gemar berdalih atau mencari-cari alasan. Namun  kenyataannya kita gemar melontarkan ekspresi berdalih. Ketika kita  diberi amant untuk tampil kita berdalih, “Wah pak, janganlah dulu, saya  belum siap…., wah pekerjaan itu terlalu mudah buat saya, atau apakah  Bapak tega melihat saya berlumuran Lumpur…!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya  cegahlah pertumbuhan jiwa yang kerdil dengan memilki karakter suka  belajar/ bekerja keras dan tekun dalam kehidupan  ini. Untuk menjadi  sukses, misal menjadi guru inti, menjadi kepala sekolah, menjadi  wydiaswara, menjadi penulis sukses- atau sukses pada bidang lain, maka  diperlukan ketekunan dan kerja keras. Ki Hajar Dewantoro, telah member  model buat kita. Ia  sangat tekun dan suka kerja keras sehingga motonya  “ing madya mangun karso, ing ngarso sing tulodo, tut wuri handayani’  dikenang sepajang zaman. Sayang banyak guru kurang paham dengan moto ini  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human relation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kita berfikir, apakah  cendrung berfikir negatif atau malah berfikiran positif, terlihat dalam  human relation- hubungan kita dengan manusia lain seperti dengan teman,  tetangga, family. Agar guru tidak terjebak dalam gaya berfikir kerdil  maka tidak pantas kalau setiap kali berjumpa dengan seseorang, kita  terjebak cuma berbicara tentang kesehatan kita sendiri. “saya kurang  sehat kemaren tidak bisa mengajar , sudah tiga bulan diserang asam urat…  sudah pergi ke puskesmas”. Kemungkinan percakapan tentang kesehatan  sendiri akan membuat orang lain bosan, sebab dapat membuat kita menjadi  rewel dan terkesan  egosentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seputar human relation  bahwa kualitas diri kita ada pengaruhnya dari hubungan kita dengan orang  lain. Kalau teman kita (walau sebagai guru) rata-rata misalnya pencandu  “penyabung ayam atau suka taruhan atas pertandingan sepak bola” pasti  kita juga dinilai sebagai guru dengan pribadi negatif- guru yang gemar  berjudi. Memang orang dinilai berdasarkan siapa teman-teman  mereka. The  bird with the same colour fly together- burung yang sama bulunya  terbang bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan seseorang menentukan keberhasilan  mereka. Guru bergantung pada keberadaan siswa, Penjual bergantung pada  pembeli, pedagang bergantung pada pembelinya, dan lain-lain. Profesi  yang berhubungan dengan pelayanan lebih baik berfokus pada pemberian  layanan yang prima- excellent service. Bila ini dilakukan maka pamor  (nama baik), termasuk uang, akan datang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  guru maka sangat bermanfaat bila kita memiliki hati yang hangat.  Bagaimana suasanya bila seseorang yang berhati hangat datang menghampiri  kita dan mengatakan “hallo”, “assalamualaikum” atau ungkapan greeting  lainnya dengan mudah. Ini berarti bahwa ia sedang mengembangkan dan  meningkatkan kualitas persahabatan dengan kita. Cara lain yang bisa  menghangatkan persahabatan adalah dengan memberi perlakuan VIP (very  important person) atau orang kelas satu pada orang lain, termasuk pada  anak didik sehingga ini membuat mereka akan menyenangi bidang studi yang  kita ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika anak didik melakukan kesalahan,  mengapa kita musti dengan enteng- menggunakan kekuasaan, membentak dan  marah-marah pada mereka “Kamu keterlaluan pada saya…. tidak bisa  menghormati saya sebagai guru”. Bukankah lebih santun kalau guru member  nasehat  dengan empat mata. Sebaliknya bila mereka memperlihatkan kerja  keras dan hasil belajar yang bagus maka jangan lupa untuk memuji  pekerjaan nya. Dalam berkomunikasi guru harus menghindari sikap sarkasme  (sikap kasar), sikap sinis dan sikap merendahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikiran  positif berasal dari kualitas fikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak adalah pabrik fikiran  yang sibuk menghasilkan produk fikiran setiap waktu. lingkungan dan  orang-orang sekeliling kita adalah ibarat laboratorium humaniora bagi  diri kita. Kita sendiri adalah ahlinya untuk mengamati labor tadi. Kita  dapat mengamati mengapa ada orang yang bisa punya banyak teman atau  punya sedikit teman. Mengapa ada orang bisa berhasil atau gagal, atau  biasa-biasa saja.  Maka pilihlah dua orang yang berhasil dan dua orang  yang gagal, cobalah mengobservasi dan menganalisanya. Maka akan kita  temui dua contoh orang yang berfikiran postif dan berfikiran negatif.  Mengembangkan pribadi yang pro berfikir positif tentu perlu strategi.  Untuk itu ada strategi yang perlu kita lakukan dan hal-hal yang perlu  kita hindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada guru yang memandang profesi guru rendah, “Wah  apalah artinya kami cuma guru SD…!” Seharusnya sekalipun kita guru TK ,  SD , SMP atau SLTA harus tetap memandang diri dan profesi sebagai hal  yang berharga- maka kita adalah manusia penting. Jika kita berbicara  dengan orang lain, kita rasakan bahwa itu adalah percakapan dua orang  penting. Guru yang berpribadi minder mungkin berkata “wah aku adalah  orang yang tidak berhasil”. Seharusnya kita harus merasa diri kita  penting dan begitu pula semua orang. “Renungkanlah bahwa anda, pasangan  hidup anda, teman anda, siswa anda ingin pula dianggap penting. Semua  orang mengidamkan prestise, ingin dihormati dan diakui”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru  yang merasa dirinya tidak penting berarti sedang menuju kehidupan yang  biasa-biasa saja, “Wah buat aku arus belajar keras, bidang studi yang  aku ajar bukan bidang studi untuk UN (ujian nasinal). Sehausnya kita  menanamkan dalam fikiran bahwa kita dan bidang studi/ profesi kita  adalah juga penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain  yang perlu kita hindari, kalau di  sekolah ada guru yang santai mencemooh guru-guru yang smart dan  bersemangat, Seolah olah berkesimpulan bahwa tidak ada gunanya untuk  jadi guru yang tekun dan rajin, “Wah sok rajin, dunia ini tidak akan  selesai oleh usaha kita sendiri”. Maka abaikan saja komentar guru atau  teman yang berfikiran negatif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi guru berhati  lapang- berjiwa besar tidak boleh memonopoli percakapan. Namun coba pula  menjadi pendengar, dan dapatkan teman untuk banyak belajar. Menjadi  guru yang berhasil berarti harus tidak memiliki kebisaaan “suka menunda  waktu, banyak nonton TV dan kebisaaan bergossip”. Namun rencanakan kerja  tiap hari- pada malam harinya. Biasakan suka memberi appresiasi pada  orang-termasuk pada anak didik,dan  memberi komentar serta respon  positif. Hindari memperlakukan manusia (anak didik)  sebagai mesin,  untuk diperintah dan diotak-atik. Sangat tepat memperlakuka anak didik  sebagai manusia- yang juga perlu dihormati, dibantu dann dipuji secara  pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan lain untuk menjadi guru yang berjiwa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana  tindakan lain yang perlu kita terapkan untuk menjadi guru yang dianggap  bisa berjiwa besar ? Setiap guru harus menjadi pemimpin untuk dirinya  sendiri. Tidak seorang pun yang memerintahkan kita untuk mengembangkan  kualitas pribadi. Apakah kita mau berkembang atau tidak, tertinggal atau  bergerak maju. Ini ditentukan oleh ketekunan pribadi kita dan  membutuhkan waktu, kerja keras dan pengorbanan yang seius. Guru perlu  menajamkan fikiran dengan membaca majalah professional pada bidang studi  yang kita geluti, dan membaca buku lain seperti buku filsafat,  komunikasi, agama, pedagogi  untuk meningkatkan kualitas profesi dan  pribadi kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu mari kita putuskanlah untuk  membeli satu buku yang mendorong semangat tiap bulan dan berlangganan  majalah dan jurnal untuk menajamkan gagasan. Nanti akan kita rasakan  betapa indahnya menjadi guru yang berjiwa besar. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:  David J Schwartz. (1996). Berfikir dan Berjiwa Besar (The Magic of  Thinking Big). TErjemah, Fx Budiyanto. Jakarta : Binarupa Aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oleh: Marjohan M.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Guru SMA Negeri 3 Batusangkar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;http://www.blogcatalog.com/blog/bunga-kehidupan/5b2cf4bb53989e08cb6065005412754d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8628341173925339126-4397806889601364936?l=andihere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andihere.blogspot.com/feeds/4397806889601364936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8628341173925339126&amp;postID=4397806889601364936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/4397806889601364936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/4397806889601364936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andihere.blogspot.com/2009/12/pentingnya-berjiwa-besar-bagi-guru.html' title='Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru'/><author><name>joefi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13728987892278368860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyKGrWNfIZI/AAAAAAAAAAs/N_r3kGqzXfE/S220/java.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8628341173925339126.post-9063594388531892757</id><published>2009-12-11T13:11:00.002+07:00</published><updated>2009-12-11T13:23:04.600+07:00</updated><title type='text'>Awalan</title><content type='html'>Di era digital seperti saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sedemikian pesat. Hal tersebut dikarenakan ketersediaan referensi di internet semakin banyak dan diskusi menjadi meluas dan mudah sehingga konsep-konsep senantiasa terbaharui.&lt;br /&gt;Blog ini dimaksudkan memuat beberapa konsep baru di bidang pendidikan untuk bahan diskusi yang lebih intens sehingga terbentuk gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang lebih relevan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8628341173925339126-9063594388531892757?l=andihere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andihere.blogspot.com/feeds/9063594388531892757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8628341173925339126&amp;postID=9063594388531892757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/9063594388531892757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8628341173925339126/posts/default/9063594388531892757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andihere.blogspot.com/2009/12/awalan.html' title='Awalan'/><author><name>joefi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13728987892278368860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nm99AAQiAbY/SyKGrWNfIZI/AAAAAAAAAAs/N_r3kGqzXfE/S220/java.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
